Tanomi mo shinai no ni asa wa yatte kuru mado o
akete chotto fukaku shinkokyuu
fukurettsura no kimi omoi dashite warau
kenka shita yokujitsu wa rusuden ni shippanashi daro
waraiau koto nanigenai kaiwa
mainichi no kurashi no naka de dou datte ii koto
nani mo kangaezuni ukande kuru kotoba fu to shita
shunkan ga taisetsu datte
kimi ni ohayou tte itte messeeji o nokoshite
boku no ichinichi hajime ni dekakenakya marude nani
mo nakatta mitai ni
denwa shite kuru kimi no koe ga suki nanda
bukiyou ni natte ita nani ga jama shite
atarimae na koto ga futoumei ni natte
boku yori mo boku no koto o umaku aiseru no wa
kimi shika inain datte wakatte kuyashikattan dake do
sennyuukan tte jibun ni mo aru ne douse dame sa nante
jibaku mo sezuni
furidashi ni tatte tohou ni kurete mo hajime no ippo
sukuwarete miru
* kimi to kata o kunde kimi to te o tsunaide
koibito dattari tomodachi de itai kara
ohayou tte itte mata yume o misete
shizen na sono ikikata de ii kara sa
minarete ita kimi no hen na ji mo daiji na kotoba
kaku to shinsen ni mieru
sunao ni narenai sunao sa nanka ja kimi ni nanni mo
tsutawaranai
mata ohayou tte itte mata yume o misete
kyou mo genki de sugosetara ii yo ne
konna ni tanjun de atarimae na koto ga hontou wa
ichiban miushinaigachi dakara ne
me o aketa mama miru yume shiranai ashita e hakobu
Merry-go-round goes
sebuah kata tak hanya memiliki sebuah makna, dan sebuah makna tak hanya dapat diungkapkan dengan sebuah kata. begitu pula diriku yang mengharapkan kan ada yang mau mengerti. karena diri ini juga akan selalu berusaha untuk mengerti.
Minggu, 23 September 2012
Kamis, 16 Agustus 2012
Begitulah Seharusnya Engkau Terlihat
Saat melihatmu kembali setelah lama, tanpa sadar memang banyak sudah yang terlihat. Keanggungan diri dalam balutan jilbab, menggambarkan seorang muslimah yang siap untuk menjemput hidayahNYA. Keteduhan dan sorot mata yang telah berubah seiring dengan perubahan sang waktu. Dan orang – orang di sekitarmu pun pasti akan merasa segan dan takjub dengan itu.
Teringat beberapa tahun yang lalu, ketika memang dirimu masih belum begitu paham. Dengan kerudung yang kau kenakan, menjadi ciri bahwa dirimu seorang muslim. Namun entah kenapa serasa masih ada yang kurang untuk menguatkan ciri itu. Ah, iya benar. Sepertinya ada sebuah ‘ruh’ yang hilang pada saat itu. Sebuah ghirah yang sebenarnya ada akan tetapi perlu dipupuk dengan baik.
Waktu demi waktu kian terlewati pula. Sedikit demi sedikit ghirah itu mulai terbentuk dan nyata. Ilmu yang kau kejar akan membawamu dalam keteduhan para pecinta. Iman itu kian tersemat dalam dadamu. Hingga ia senantiasa menghiasi hari – harimu.
Kini hijabmu telah kau miliki. Jilbabmu tak lagi kau tanggalkan. Tak ada lagi lekuk tubuh yang sengaja diperlihatkan. Begitulah seharunya engkau terlihat. Sebagai seorang muslimah yang menjaga dirinya. Yang menutup perhiasan dirinya. Setiap yang memandang mungkin juga akan merasa malu. Malu karena sungguh mata ini tak layak untuk mengumbar panah setan ke segala penjuru. Dan itulah justru yang menundukkan anak panah ini.
Wanita dalam Islam memang ibarat mutiara. Semakin ia menutup diri di dasar lautan, semakin berharga pula mutiara itu. Tetaplah istiqomah dengan apa yang menjadi peganganmu sekarang. Apa yang sudah menjadi loncatan besar dalam hidup harus dilanjutkan. Karena langkah itu tidaklah berhenti di sini. Masih banyak hal yang harus diraih di dunia ini. Namun tetap diri juga akan istiqomah untuk tidak berjilbab hingga saat ini.
Begitulah Seharusnya Engkau Terlihat
Saat melihatmu kembali setelah lama, tanpa sadar memang banyak sudah yang terlihat. Keanggungan diri dalam balutan jilbab, menggambarkan seorang muslimah yang siap untuk menjemput hidayahNYA. Keteduhan dan sorot mata yang telah berubah seiring dengan perubahan sang waktu. Dan orang – orang di sekitarmu pun pasti akan merasa segan dan takjub dengan itu.
Teringat beberapa tahun yang lalu, ketika memang dirimu masih belum begitu paham. Dengan kerudung yang kau kenakan, menjadi ciri bahwa dirimu seorang muslim. Namun entah kenapa serasa masih ada yang kurang untuk menguatkan ciri itu. Ah, iya benar. Sepertinya ada sebuah ‘ruh’ yang hilang pada saat itu. Sebuah ghirah yang sebenarnya ada akan tetapi perlu dipupuk dengan baik.
Waktu demi waktu kian terlewati pula. Sedikit demi sedikit ghirah itu mulai terbentuk dan nyata. Ilmu yang kau kejar akan membawamu dalam keteduhan para pecinta. Iman itu kian tersemat dalam dadamu. Hingga ia senantiasa menghiasi hari – harimu.
Kini hijabmu telah kau miliki. Jilbabmu tak lagi kau tanggalkan. Tak ada lagi lekuk tubuh yang sengaja diperlihatkan. Begitulah seharunya engkau terlihat. Sebagai seorang muslimah yang menjaga dirinya. Yang menutup perhiasan dirinya. Setiap yang memandang mungkin juga akan merasa malu. Malu karena sungguh mata ini tak layak untuk mengumbar panah setan ke segala penjuru. Dan itulah justru yang menundukkan anak panah ini.
Wanita dalam Islam memang ibarat mutiara. Semakin ia menutup diri di dasar lautan, semakin berharga pula mutiara itu. Tetaplah istiqomah dengan apa yang menjadi peganganmu sekarang. Apa yang sudah menjadi loncatan besar dalam hidup harus dilanjutkan. Karena langkah itu tidaklah berhenti di sini. Masih banyak hal yang harus diraih di dunia ini. Namun tetap diri juga akan istiqomah untuk tidak berjilbab hingga saat ini.
Senin, 14 Mei 2012
Sekelumit Rasa Rinduku....
Tanpa terasa kuliah saat ini telah memasuki tahun ke – 3 dan hampir menuju akhir pula. Dan tidak terasa juga hampir 3 tahun meninggalkan masa – masa yang menyenangkan selama berada di SMA. Rasa haru dan rindu pun kini terbentuk kembali. Entah bagaimana kabar sahabat – sahabat ku di sana kini. Diri ini yang telah jauh melangkah mencari pengalaman diri sepertinya sangat jarang untuk bisa kembali dan menyapa bagian kecil hatinya itu.
Masih teringat jelas ketika pertama kali memasuki gerbang SMAN 14 Bandung itu sebagai siswa baru. Dari sana mulai terpikir akan mengikuti beberapa ekstakulikuler ternama. Sempat terpikir untuk mengikuti basket kembali atau mencoba sesuatu yang baru. Hingga beberapa pekan belum juga bisa untuk memutuskan bergabung dengan salah satu ekstrakulikuler pula. Hingga akhirnya ada saran dari seorang teman untuk mengikuti ekstrakulikuler DKM. Entah apa itu kepanjangannya, namun sepertinya cukup menarik juga. Akhirnya tanpa pikir panjang lagi mencoba memantapkan hati mengikuti DKM.
Pada awalnya sempat merasa aneh juga. Kok ekstrakulikuler ini kumpulnya di Masjid. Mungkin, karena memang gak ada tempat lain kali. Itu yang pertama kali terpikir juga. Namun, setelah mengikuti kegiatan pertama, barulah sadar ternyata dijebak untuk mengikuti kegiatan keislaman di SMA. Hingga akhirnya setelah kegiatan pertama itu muncul teriakan kecil dalam hatiku. “Apa yang sebenarnya aku lakukan di tempat ini? Mau ngapain gue di sini? Ini bukan tempat gueee!!!!!!!!”. Ya, karena memang gemana bisa masuk ke organisasi keislaman, orang sholat aja kadang masih belum bener. Kadang masih belang juga sholatnya. Terus, ngapain juga ada di sana? Masa cuma jadi orang gak jelas juga. Akhirnya terbesit keinginan untuk keluar juga. Namun sekali lagi, seorang sahabat ku di luar memintaku untuk setidaknya ada 1 semester saja di DKM. Sayang kalau langsung keluar katanya. Dan itu pula yang aku coba ikuti.
Ketika coba untuk menjalani “kehidupan gak jelas” di DKM, dan mulai mencoba untuk membiasakan diri pula. Tidak disangka pula bisa bertemu dengan kawan – kawan yang luar biasa di DKM ini. Mulai dari Zikra, Razan, Ahmad Puguh, Grantino, Ika, Endah, Azzizah, Enung, Nurfida dan yang lain luar biasa pula. Semua memiliki ciri khas dari diri masing – masing. Dan semua bisa menciptakan suasana yang bisa membuat betah pula. Canda dan tawa senantiasa ada ketika kita bersama. Belum lagi karena ada kakak – kakak dan mentor yang luar biasa pula. Benar – benar bisa membuat betah deh.
Dan masih ingat pula ketika pertama kali masuk, langsung serasa bermusuhan dengan salah satu orang geje bernama Endah Katikasari. Ya hanya karena sebuah candaan yang mungkin kelewat batas di telepon juga sih, akhirnya kita jadi bermusuhan ya. Tapi akhirnya justru dari itu semua bisa jadi akrab pula. Sempat juga ada sedikit masalah dengan Azizah. Masih ingat ketika berjalan berpapasan, Azizah sudah berniat menyapa juga. Tapi aku justru acuh dan berlalu saja di depannya. Terus terang aja sebenarnya gak terlalu ingat juga klo sama muka. Apalagi waktu di jalan. Karena takut salah orang dan agak malu juga, akhirnya ya Cuma lewat aja. Eh, ternyata memang benar orangnnya yang itu. Dan ternyata tidak terima juga sih. Akhirnya kena dampaknya juga deh. Maaf ya Azizah
Dan setelah beberapa lama bersama, boleh diakui juga sih klo memang kita akhirnya bisa semakin akrab. Aku, Zikra, Puguh dan Grantino berbasis di kelas X – C. Sementara Azizah, Endah, Nurfida dan Tiya ada di kelas X – D. Sementara itu Ika di X – E, Razan dan Enung berbasis di kelas X – H (klo gak salah ini juga. Maaf ya klo salah ). Tapi tidak menyurutkan kita untuk bisa selalu berbagi bersama juga. Dan diakui juga, ada benih – benih virus merah jambu yang muncul saat itu. Gak Cuma 1 orang juga lho itu. Hayooo sapa aja ya itu.... hehehehe....Tapi dari semua itu, kita bisa tetap bersama juga. Terbukti ketika rihlah ke situ lembang, benar – benar menyenangkan juga. Sangat berkesan dan itu pertama kali jalan kaki dengan jarak ektra jauh. Tapi karena bersama kalian semua terasa ringan dan menyenangkan. Memang tidak semua ada di sana. Sangat disayangkan karena jika ada di sana semua pasti lebih rame dan geje juga nantinya.
Ingat juga ketika ada bakti sosial di tempat yang entah dimana itu, kita juga bisa bersama. Walau saat itu liburan, tapi tetap dari kita ada yang hadir juga. Tapi sayang Cuma sedikit sih. Yang penting tetap bisa bersama. Ingat ketika berangkat ada di mobil milik Razan. Tapi kenapa malah aku yang ada di kursi belakang bareng sama yang cewek – cewek. Padahal cowok lain ada di depan. Ya udah gak apa – apa juga. Toh di belakang juga enak malah dapet makanan juga. Tapi pulangnya malah yang cowok yang ditumpuk di belakang, sampai akhirnya agak lega setelah kang Gatot dipindah ke tengah.
Masuk tahun ke – 2, kelas kita terpencar kembali. Dan sangat disayangkan justru Zikra dan Razan harus pindah sekolah. Padahal kalian berdua benar – benar memiliki potensi untuk DKM ke depan juga. Tapi justru pindah ke sekolah lain. Lalu kelas kita juga tersebar. Endah ada di XI IPA 1. Aku, Nurfida dan Ika ada di XI IPA 2. Azizah dan Enung ada di XI IPA 3. Tiya ada di XI IPA 4. Puguh dan Grantino ada di XI IPS 1. Dan sepertinya aku satu – satunya cowok DKM di kelas XI yang ada di jurusan IPA nih. Tapi gak apa – apa deh. Toh setiap pulang sekolah juga kita selalu ngumpul di masjid lagi. Kita masih bisa bersama.
Ketika kelas XI ini banyak sekali kejadian lucu juga. Masih ingat ketika awal kita akan latihan nasyid, lalu ketika semua belum datang akhirnya aku iseng aja tidur di balik mimbar masjid. Ketika yang lain datang dan siap untuk mulai latihan, malah bingung nyari aku dimana. Dan dengan muka polos, keluar dari balik mimbar dengan muka setengah ngantuk juga. Jujur aja agak sedikit malu juga bro, tapi bisa menjadi kenangan kita juga.
lalu ketika ada kompetisi nasyid tingkat kota Bandung. Kita berhasil jadi juara 4 dan 5 kan. Kurang luar biasa apa coba (karena memang Cuma ada 5 kontestan dalam kompetisi tersebut juga). Ya tapi biar bagaimana pun kita tetap masuk 5 besar jgua lho. Ya walau akhirnya bisa keluar dengan surat izin yang sebenarnya sudah kadaluarsa juga tuh. Hehehe...
Ketika pemilihan ketua DKM juga, sempat ada konflik diantara kita juga. Puguh yang terkesan emosional, aku sendiri yang memang terlihat ambisius, serta Grantino yang adem ayem. Akhirnya ada 2 kandidat yaitu aku dan Grantino. Sebenarnya masing – masing dari kita juga sudah sama – sama menolak juga. Hingga akhirnya Grantino lah yang terpilih menjadi ketua saat itu. Bersyukur juga karena yang jadi ketua justru bukan aku. Tapi maaf ya Grantino karena biar kamu ketua tetap aja sering aku suruh – suruh. Udah gitu mau juga.
Dan teringat juga sempat terasa jenuh ada di dalam DKM. Maaf kawan – kawan, mungkin itu hanya karena aku sedang futur saja. Hingga nekat sampai membuat surat pengunduran diri dari DKM. Tapi setelah berdiskusi dengan Kang Purnomo, alhamdulillah serasa mendapat semangat baru untuk tetap berada di dalam DKM kembali. Dan siap juga untuk terus berjalan bersama sahabat – sahabatku yang aku cintai ini.
Hanya sayang, maaf karena ketika kelas XII justru aku mulai tidak aktif. Hal itu memang dikarekan dari orang tua sendiri meminta untuk mengurangi aktivitas di DKM. Padahal separuh dari hati ini jujur masih ingin bersama kalian juga. Tapi kondisi membuat semua itu jadi terasa tidak mungkin juga. Akhirnya hanya pada saat – saat tertentu saja aku bisa bersama kalian lagi. Rasanya kangen dan ingin terus bisa ngumpul – ngumpul lagi. Tapi semua sepertinya sibuk deh. Hingga akhirnya kita sepertinya hanya bisa berkumpul pada waktu sholat dhuha dan sholat dzuhur saja. Tapi semua itu tidak menyurutkan kenanganku bersama kalian.
Kembali ke masa sekarang. Saat ini aku ada di ujung timur pulau jawa. Terpisah dari kalian saudara – saudariku semua. Rasanya sepi di sini. Ingin rasanya kita bisa bersama lagi. Berbagi canda, tawa dan cerita kembali lagi. Mengulang kisah – kisah dulu. Dan kembali mengukir cerita baru bersama. Maka dapatkah kita berkumpul bersama lagi? Setidaknya sekali lagi untuk mengukir kenangan baru kita. Karena jujur saja saat ini aku merindukan kebersamaan kta dulu. 3 tahun di sini tanpa kalian. Terpisah jauh dan hanya bisa kembali setidaknya 6 bulan sekali. Sungguh memang rasa rindu itu kian menumpuk dalam dada ini. Ingin rasanya ketika kembali bisa melihat secercah senyum di wajah kalian kembali. Itu cukup untuk membuat hatiku sedikit terobati. Namun aku juga sadar masing – masing dari kita memiliki kesibukan masing – masing. Tapi tidak bisa kah kita kembali berkumpul bersama lagi?
Aku sadari saat ini memang kita berada di tempat yang terpisah – pisah. Namun tidak berarti hati kita juga terpisah bukan? Justru aku harap kita bisa semakin kuat dan silaturahmi kita bisa berjalan. Aku tida bisa mengetahui dengan pasti bagaimana kondisi kalian saat ini. Bahkan kabar yang ada pun hanya tersiar sangat sedikit pula. Apakah kalian juga merindukan saat – saat itu? Apakah kalian saat ini baik - baik saja? Apakah kita masih ada di langkah yang sama? Semua itu menjadi pertanyaan besar dalam benakku ini. Karena itu pula dalam doa aku panjatkan kebaikan dalam diri kita semua. Ya, karena ada di DKM dulu kita bisa bersama. Karena ada di jalan-Nya aku bisa mengenal kalian semua. Karena itu aku sangat bersyukur pernah ada dan menjadi bagian dalam DKM SMAN 14 Bandung. Dan karena itu pula aku yakin. Saudara – saudariku semua, AKU MENCINTAIMU KARENA ALLAH......
Surabaya, 14 Mei 2012
Rabu, 09 Mei 2012
permata indah nan jernih
meniti butiran di kelopak mata
menanti saat mereka untuk terjatuh
bukan karena terpaksa
dan bukan karena ingin terjemput
mengalir arus mengarungi lembah
mengikis setiap tebing qolb ini
berderai tanpa mengucap kata
berdesakan tanpa mengurai suara
tersemat sebuah madah
dalam kenangan berjuta rasa
hanya diri dan Tuhannya yang mengetahui
apa arti dari semua permainan hati ini
yang mencari dalam setiap lelah
Minggu, 08 Januari 2012
Di Perjalanan Menjelang Pagi
Lelah rasanya diri
ini dengan beban tugas yang menerpa. Kala tugas itu harus dikerjakan semalaman,
dan tetap belum saja sempurna dikerjakan. Namun apa daya, tubuh ini telah
menolak untuk melanjutkannya. Maka akhirnya aku tinggalkan sejenak tugas ku dan
mulai melangkah menghindar.
Kini sudah hampir pagi. Sepertinya masih
ada waktu sejenak untuk beristirahat. Kususuri lorong lantai 3 kampus ku,
menjauh dari labratorium tempat ku mengerjakan tugas. Selangkah demi selangkah
menuruni anak tangga. Sekilas terlihat rembulan sedang tersenyum kepada ku. Tetap
ramah dengan purnamanya, dan indah dengan cahaya.
“Sekarang sudah hampir pagi. Lebih baik
istirahat di mushola. Ketika subuh nanti pasti ada yang membangunkan.” Guman ku.
Kini aku melangkah menuju mushola
untuk beristirahat. Ditemani seekor kucing kecil yang dengan manja terus
mengikuti langkahku. Rembulan pun tak malu untuk terus tersenyum kepadaku. Dan angin
malam semilir mengiringiku. Entah mengapa semua hal itu membuat kedua mataku
yang tadinya lelah dengan segala aktivitas yang ada, kini menjadi segar
kembali. Tanpa terasa senyum kecil mengukir bibirku.
Karena mataku tidak lagi merasakan
kantuk, timbul keinginan untuk bisa bermunajat kepadaMU malam ini. Tapi entah
mengapa rembulanMU di langit cerah ini seakan menarik diriku. Dan angin malam
menggugah semangatku untuk terus menikmati suasana ini. Entah mengapa keputusan ku berubah menjadi
berjalan – jalan di tengah kesunyian 1/3 malam ini.
Aku nyalakan sepeda motor ku. Bersiap
mengarungi malam bersama sahabat setia ku. Ya, sahabat yang selalu mengiringi
langkah ku mulai ketika aku berada di Bandung dulu. Kota yang penuh perjuangan.
Dimana aku memulai langkah ku kini. Mulai merasakan indahnya jalan yang diterangi
cahaya. Awal dari pencarian arti diri ini. Dan seiring laju ku menembus angin,
pikiranku terbang melintasi ruang dan waktu. Mengenang kembali yang telah lalu.
Dalam perjalanan ini terasa ada yang
berbeda. Dahulu ketika mengendarai motor di tengah malam, selalu saja kaca
spion itu aku putar ke depan. Alasannya karena takut apabila ada sesosok
bayangan wanita yang ikut menumpang motor ku terlihat dari spion. Tapi kini aku
sudah tidak begitu mempedulikannya. Ada atau tidak yang mau menumpang, toh aku
juga tidak mau mengantarkan dia. Aku memiliki tujuanku sendiri.
Semilir angin kini kian terasa
dingin. Seakan menyelimuti tubuh ku yang lemah ini. Tapi itu yang membuat diri
ini kian merasa senang. Balutan lembut dari angin gunung yang selalu dirindukan
bisa sedikit terobati. Belum lagi rembulan masih tetap tulus tersenyum pada ku
malam ini. Maka tanpa ragu aku pun membalas senyumnya.
Tiba di persimpangan jalan, terlihat
lampu lalu lintas berwana merah. Memang keadaan saat itu sangat sepi. Sehingga sepeda
motor di belakang ku terus saja melaju tanpa mempedulikan aturan yang berlaku. Aku
hanya bisa tersenyum melihatnya. Toh sang bulan pun masih juga tersenyum saat
ini.
Sambil menunggu lampu berubah
menjadi hijau, aku memperhatikan sekeliling ku. Tampak seorang agen koran
sedang sibuk bersiap membagi koran kepada para loper koran jalanan. Ia memilah –
milah koran mana yang harus dipersiapkan dan dikelompokkan. Dalam 1/3 malam
terakhir ini, dirinya harus berjuang menafkahi keluarnya. Di tengah malam yang
sunyi ini dia berjuang untuk mencari penghidupan. Sempat terbesit dalam
benakku, apakah pernah selama ia menjadi agen koran untuk mengisi 1/3 malam terakhirnya dengan bermunajat
kepada Sang Illahi? Ataukah berapa lama ia bisa berdiri dan beribadah di malam
ini sehingga dirinya bisa bercinta dengan mesranya dengan Sang Illahi?
Mungkin saat ini hatinya tengah
menyesal. Ketika orang lain bisa menikmati lezatnya 1/3 malam terakhir bermesra
dengan Sang Pencipta, dirinya harus memilah koran untuk disebar pagi harinya. Atau
mungkin walau orang lain hanya tertidur dengan lelapnya, dirinya harus rela
menahan kantuk demi sesuap nasi. Entah bagaimana perasaannya jika ia tahu bahwa
dirinya tidak bisa menikmati lezatnya qiyamullail seperti orang lain.
Hati ku mulai bergejolak. Entah apa
jadinya jika dikemudian hari justru aku yang menempuh jalan seperti dirinya. Harus
berjuang meninggalkan 1/3 malam dengan bekerja. Tapi perjuangannya tetap untuk
umat pula. Ia harus berjuang dalam butanya pagi agar setiap orang bisa
mendapatkan berita dan informasi yang aktual dan berimbang. Entah bagaimana
jadinya apabila setiap agen koran tidak ada yang bangun pagi. Mungkin informasi
itu akan sampai terlambat. Dan perjuangan agen koran untuk bekerja sejak dini
hari tetap merupakan suatu hal yang mulia. Namun dalam hati ku tetap berharap
agar aku tidak berprofesi demikian di suatu hari nanti. Entah apa jadinya 1/3
malam terakhirku nanti.
Kini sepada motor ku terus melaju
membelah jalanan. Angin malam tetap setia menjaga ku dari rasa kantuk agar
tidak tertidur. Dan rembulan tetap tersenyum lembut mengiringi pejalanan ku. Walau
kadang ia bersembunyi dalam rimbun pepohonan atau tingginya gedung yang
menjulang di kota ini.
Tak lama kemudian sampailah aku
dalam sebuah pasar dadakan. Seakan badan jalan telah menjadi tempat untuk
mencari sebagian dari rezekinya. Tampak orang – orang di sana sedang sibuk
mempersiapkan dagangannya. Bahkan ada distributor yang baru saja datang di sana
dan membagikan sayur mayur segar untuk dijual. Semua ini masih terjadi di 1/3
malam terakhir.
Hati ku kini terusik lagi. Para pedangang
kecil di pasar ini tak berbeda dengan agen koran. Di 1/3 malam terakhir harus
bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Dan kali ini jumlah mereka jauh lebih
banyak dari agen koran. Yang membuat hati ku risau adalah, sebanyak ini kah
jumlah orang yang tidak bisa menikmati lezatnya 1/3 malam itu? Padahal karunia,
ampunan serta keutamaan lainnya dari 1/3 malam itu begitu tinggi. Tapi begitu
banyak hambaMU yang terhalang untuk menikmatinya. Dalam hatiku berharap agar
dikemudian hari nanti aku tidak termasuk yang demikian.
Tetapi patut kita sadari pula, bahwa
mereka seperti itu karena tuntutan dari kita juga. Ketika pagi hari pastinya
kita menginginkan sayuran segar agar keluarga kita bisa menikmati sarapan
dengan mudah. Coba bayangkan apabila para penjual sayur itu tidak berjualan di
pagi hari? Mungkin tidak ada dari kita yang bisa menikmati sarapan. Mereka mengorbankan
waktunya untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Di pagi buta mereka sudah
berjuang untuk bisa melayani umat dengan menyediakan kebutuhan kita. Meskipun harus
mengorbankan 1/3 malam terakhirnya.
Kini motor ku terus melaju membawaku
ke sebuah jalan utama di kota ini. Sambil terus menikmati perjalanan ini,
pikiran ku terus melayang memikirkan banyak hal. Lamunan ku terus memikirkan
waktu berharga yang tersia – siakan dikarenakan kewajiban melayani umat dan
demi menyambung hidup. Sungguh besar sebenarnya arti pengorbanan itu.
Namun tiba – tiba lamunan ku buyar begitu saja. Tanpa diduga ada sepeda
motor dengan kecepatan tinggi menyalip ku. Suara motor tersebut sangat nyaring
dan terkesan berisik. Sesaat ada sedikit kekesalan terhadap pengendara motor
tersebut. Namun segera saja aku berikan sedikit senyuman ke arahnya. Toh bulan
saja masih tetap tersenyum dengan tulus kepada ku. Mungkin dia sedang sangat
terburu – buru. Bahkan saking buru – burunya, ia sampai lupa mengenakan helm
dan hanya memakai kaos tipis di tengah malam ini. Lampu merah pun tak
dipedulikannya. Sepertinya memang ada suatu urusan yang penting. Semoga saja
demikian dan semoga dia tidak mengalami kecelakaan.
Sepeda motor ku terus melaju. Angin malam tetap menyelimuti ku. Menyejukkan
diri segala yang tengah dirasakan. Dan sang rembulan terus memancarkan cahaya
kelembutan mengiringi perjalananku. Senyumnya memberi kedamaian dalam hati
ku.dan membuat perjalanan ini terasa sangat berkesan. Terus dan terus melaju
menuju ujung kota ini.
Tiba – tiba ada sepeda motor yang berjalan mendekat ke arah ku. Semakin lama
semakin mendekat. Hingga akhirnya tepat berada di sebelah ku. Ada 2 orang pemuda
berboncengan di sepeda motor tersebut. Dan keduanya tidak ada yang mengenakan
helm. Karena jaraknya yang cukup dekat, aku bisa melihat ekspresi wajah mereka,
sorot matanya bahkan bau mulutnya. Dari sana saja aku sudah bisa menerka bahwa
kedua sedang dipengaruhi alkohol. Sesuatu yang sangat aku benci apabila
disalahgunakan.
Entah mengapa orang yang dibelakang mengeluarkan suatu benda yang agak
panjang namun tidak terlihat jelas apa itu. Tiba – tiba orang tersebut langsung
mengayunkannya ke arahku. Alhamdulillah aku masih bisa menghindarinya. Langsung
setelah itu aku memaksa sepeda motor ku untuk mengeluarkan kemampuannya. Tapi ternyata
mereka juga mengejarku. Akhirnya kejar – kejaran pun terjadi. Seperti sebuah
balapan liar yang terjadi di pagi buta. Dengan sedikit gerakan mengecoh, akhirnya
aku bisa lepas dari kejaran mereka walaupun sempat bersinggungan sedikit. Semoga
saja mereka tidak apa – apa karena tidak memenuhi standar keselamatan. Namun aku
juga tidak berniat berbalik untuk menolong mereka.
Dalam hati, aku berguman. Ternyata masih ada juga orang yang menyia –
nyiakan 1/3 malam terakhirnya untuk hal yang sama sekali tidak bermanfaat. Padahal
1/3 malam terakhir itu begitu tinggi kedudukannya. Tapi masih juga ada yang
membuang keutamaan 1/3 malam terakhir itu. Benar rugi orang tersebut. Bahkan amat
sangat ruginya orang tersebut.
Sesaat setelah itu, aku kemudian terdiam sambil sepeda motor ku terus
melaju kembali ke tempatku semula. Namun hati ini menjadi terdiam. Sesaat terasa
sebuah rasa penyesalan yang begitu menyesakkan dada. Bahkan tanpa disadari, air
mata ini mengalir membasahi pipi. Tubuh ini pun rasanya bergetar. Perasaan ku
kacau balau. Apabila mengingat kembali semua yang dilihat di pagi ini, seakan
penyesalan ini kian menjadi.
Banyak orang yang harus dengan rela mengorbankan 1/3 malamnya untuk
bekerja atau melakukan hal lain selain bermunajat. Bahkan mereka harus mau
merelakan lezatnya 1/3 malam terakhir untuk mencari rezekiNya, dan untuk umat
pula. Sungguh apa yang mereka lakukan itu pun begitu mulia. Karena walau tidak
bisa meluangkan waktunya untuk beribadah, tapi mereka bisa sangat bermanfaat
bagi orang lain. Bahkan mereka dibutuhkan.
Di sisi lain, ada juga orang menyia – nyiakan 1/3 malam terakhir begitu
saja. Kadang malah mengisinya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Dan tidak
sedikit orang yang berlaku demikian. Termasuk diri ini.
Sering rasanya 1/3 malam terakhirku aku habiskan untuk hal yang sedikit
mengandung manfaat. Dan rasanya itu seperti sudah menjadi kebiasaan. Maka apa
bedanya diri ini dengan dua orang pengendara sepeda motor tadi yang menghabiskan
1/3 malam terakhirnya dengan menegak minuman haram dan berusaha mencelakai
orang lain. Sama – sama tidak bisa memanfaatkan waktu yang begitu tinggi
kedudukannya. Sama – sama dalam kerugian. Bahkan mungkin diri ini jauh lebih
rugi dari mereka. Mereka yang belum begitu paham dengan agamanya, dan mungkin
tidak tahu tentang keutamaan 1/3 malam terakhir.
Tapi diri ini berbeda. Berbekal pengetahuan agama yang alhamdulillah
diamanahkan oleh Allah, serta sedikitnya beban kita dalam menjalani hidup. Justru
sering meninggalkan 1/3 malam terakhir atau bahkan melupakannya. Bahkan mengisinya
dengan sesuatu yang tidak begitu berarti. Maka apakah diri ini sudah lebih baik
dari mereka.
Untuk saudaraku seiman semua. Sungguh setiap dari kita telah mengetahui
keutamaan dari 1/3 malam terakhir. Maka apakah kita akan menyia – nyiakannya begitu
saja? Atau kita seakan tidak peduli dengan keutamannya itu? Sungguh begitu
banyak orang yang tidak bisa menghabiskan 1/3 malam terakhirnya untuk bisa
bermunajat, bermesra kepada Sang Pencipta. Mereka sebenarnya ingin bisa
meluangkan waktunya pula. Tapi mereka tidak bisa melakukannya dan merasa
menyesal. Maka tidak kah kita cemburu pada mereka? Padahal kita memiliki waktu
yang begitu lapang di 1/3 malam terakhir kita. Tapi dengan apa kita mengisinya?
Tidak kah kita merasa malu terhadap saudara kita yang lain. Saudara kita yang
begitu berharap bisa meluangkan waktunya di 1/3 malam terakhirnya untuk bisa
bermunajat kepada Allah.
**Sebuah renungan
untukku. Semoga bisa bermanfaat untuk antum semua
Surabaya, 9 Januari
2012
Senin, 02 Januari 2012
Khoirunnas Anfa'uhum linnas
![]() |
| Add caption |
Bismillahirrahmanirrahim....
Koper itu kini digenggamnya lagi. dengan langkah tegap ia berjalan menyusuri lorong bandara. Singapura, itulah tujuannya kini. setelah menyelesaikan beberapa masalah administrasi, kini ia bisa duduk dengan nyaman di kursinya dalam pesawat. berada di ruang VIP memang bisa membuatnya tenang dan kembali memikirkan tujuannya. menjadi lebih sukses dari orang lain dan menjadi lebih baik dari semuanya. itu ambisi pribadinya. dengan pakaian ber-jas mewah, sepatu bermerk dan berdasi, benar - benar mencerminkan seorang pengusaha. kini ia berharap orang yang duduk di sebelahnya nanti merupakan seorang pengusaha juga atau seorang yang jauh lebih baik darinya agar setidaknya ia bisa sedikit "mencuri" ilmu dan mengembangkan dirinya agar lebih baik lagi. sambil menunggu, ia kembali sibuk dengan Ipad nya sekedar untuk menjadwal kembali rencana kegiatannya di negeri seberang.
Tak lama kemudian ada seorang wanita tua duduk di sebelahnya. pakaiannya tampak lusuh dan udik. bahkan ia hanya memakai sendal jepit, padahal berada di kelas VIP. sejenak ia menyangka bahwa Ibu itu salah duduk. tetapi tidak ada pramugari yang menegurnya. itu artinya dia duduk di tempat yang benar. terbesit sebuah tanya bagaimana bisa seorang wanita tua yang sangat sederhana itu bisa berada di penerbangan VIP bersama dirinya. akhirnya karena didorong oleh rasa penasaran maka ia pun bertanya kepada wanita tersebut.
"Ibu, mau ke Singapura juga?"
wanita itu tampak terkejut. kemudian ia mengendalikan diri dan tersenyum.
"Iya Nak."
"Mau bekerja atau ... ?"
"Mau bertemu dengan anak saya di Singapura Nak. kebetulan Istrinya baru saja melahirkan anak kedua beberapa hari yang lalu. jadi saya ingin menengok juga."
sempat terbesit rasa penyesalan telah bertanya demikian. entah mengapa ia berpikir bahwa Ibu itu seorang TKW. tapi sepertinya Ibu itu tidak terlalu memikirkannya dan tetap tersenyum dengan pandangan menerawang ke depan.
"Oh begitu. Anak ibu bekerja sebagai apa di Singapura?"
"Katanya sih sebagai Permanent Resident gitu atau apa gitu istilahnya. yang jelas katanya dia sering gambar - gambar gedung gitu di sana."
sejenak dirinya merasa kagum dengan Ibu tersebut. walaupun dirinya terlihat berasal dari keadaan yang sangat sederhana, tapi anaknya bisa sukses dan berhasil di luar negeri. akhirnya ia jadi ingin lebih tahu lebih banyak lagi tentang anak - anaknya.
"Wah keren juga ya anak Ibu bisa jadi sukses seperti itu."
"Alhamdulillah Nak. Ibu juga senang anak - anak Ibu bisa pada berhasil semua."
"Memang anak Ibu yang lain sekarang dimana?"
"Anak Ibu yang ketiga sekarang udah jadi dokter syaraf gitu di Jakarta. terus yang keempat sekarang dapat beasiswa S2 di Belanda. katanya biar bisa jadi profesor atau apa gitu."
Kini dirinya semakin kagum pada Ibu tua tersebut. walau penampilan dan hidupnya sangat sederhana, tapi anak - anaknya sukses semua. tapi ada sesuatu yang mengganjalnya. dirinya jadi penasaran terhadap anak pertama Ibu tersebut.
"Terus anak pertama Ibu bagaimana?"
"Anak Ibu yang pertama cuma jadi petani aja di kampung. jadi dia yang menemani Ibu setiap hari."
terlihat mata Ibu tersebut sedikit berkaca - kaca. akan tetapi Ia tetap mengulum senyum di bibirnya. kini pandangannya sedikit tertunduk ke bawah.
"Maaf jika kata - kata saya sedikit menyinggung Ibu. saya tahu bahwa anak Ibu yang pertama tidak bisa dibanggakan seperti anak Ibu yang lainnya. tapi anak Ibu yang lain semuanya luar biasa karena bisa sukses seperti itu."
"Tidak! justru sebaliknya. Ibu sangat bangga pada anak Ibu yang pertama. sangat - sangat bangga. sangat - sangat bangga..!!"
"Tapi bagaimana Ibu bisa bangga? bukankah anak Ibu yang pertama hanya menjadi petani biasa saja di kampung?"
"Justru itu Nak. sejak suami Ibu meninggal, anak pertama Ibu langsung putus sekolah dan menjadi petani. tapi dia tidak pernah memperbolehkan adik - adiknya untuk putus sekolah jgua seperti dirinya. bahkan dia selalu bekerja keras agar adik - adiknya semua bisa terus sekolah dan terus membiayai kebutuhan adik - adiknya. ketika adik - adiknya putus asa juga dia yang selalu mengirimi surat dan memotivasi adik - adiknya agar tidak menyerah dan terus berusaha. walaupun dia sendiri yang tidak pernah sampai sekolah tinggi seperti adiknya, tapi dia selalu ingin agar adiknya jadi lebih baik dari dirinya. bukan menjadi yang lebih dari adik - adiknya dan membiarkannya begitu saja. pokoknya Ibu sangat bangga pada anak Ibu yang pertama itu."
senyum lebar terlihat dari wajah Ibu tersebut. walau dari sinar matanya masih terdapat haru yang mendalam, tapi rasa kebanggaan itu tetap terpancar dari raut wajahnya.
sejenak kemudian pembicaraan itu terhenti. masing - masing dari mereka tenggelam dalam lamunannya sendiri. Kini pengusaha itu merenungi kembali ambisinya. dari awal ia hanya ingin agar bisa menjadi lebih dari orang lain. terus berharap agar orang lain jatuh sehingga dirinya bisa jadi lebih baik dari orang tersebut. bukan berharap untuk bisa membantu orang lain dan mendorong orang lain agar bisa lebih daripada dirinya. bukan pula untuk berkorban banyak bagi orang lain. seseorang yang sangat sederhana sekalipun justru bisa memberikan manfaat yang sangat luar biasa untuk orang lain. entah mengapa dirinya kini merasa malu. malu karena belum berusaha untuk membantu orang lain secara maksimal. malu karena dirinya bahkan berada dalam keadaan yang jauh lebih baik.
kini dia pikirannya mulai terbang lagi ke arah lain. dia mulai melihat lagi jalan hidupnya yang telah ditempuh selama ini. adakah orang - orang yang telah berkorban banyak agar dirinya kini bisa berhasil? apakah dirinya pernah setidaknya berterima kasih kepadanya? atau sempat membalas jasanya?
entah mengapa kini pipinya basah. Ya, kini dirinya sedang menangis. merasa menyesal belum sempat membantu orang lain. tidak pernah memikirkan orang lain. tidak berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain. padahal agar bisa sampai pada keadaan seperti saat ini, dirinya sering sekali dibantu oleh orang lain. saatnya merubah mindset diri dan merubah keegoisan dalam diri. berusaha untuk membalas dan bermanfaat bagi orang lain. itulah niatnya kini. bukan lagi berambisi untuk menjadi lebih daripada orang lain, tapi untuk bisa bermanfaat lebih daripada orang lain.
-Khoirunnas anfa'uhum linnas-
Koper itu kini digenggamnya lagi. dengan langkah tegap ia berjalan menyusuri lorong bandara. Singapura, itulah tujuannya kini. setelah menyelesaikan beberapa masalah administrasi, kini ia bisa duduk dengan nyaman di kursinya dalam pesawat. berada di ruang VIP memang bisa membuatnya tenang dan kembali memikirkan tujuannya. menjadi lebih sukses dari orang lain dan menjadi lebih baik dari semuanya. itu ambisi pribadinya. dengan pakaian ber-jas mewah, sepatu bermerk dan berdasi, benar - benar mencerminkan seorang pengusaha. kini ia berharap orang yang duduk di sebelahnya nanti merupakan seorang pengusaha juga atau seorang yang jauh lebih baik darinya agar setidaknya ia bisa sedikit "mencuri" ilmu dan mengembangkan dirinya agar lebih baik lagi. sambil menunggu, ia kembali sibuk dengan Ipad nya sekedar untuk menjadwal kembali rencana kegiatannya di negeri seberang.
Tak lama kemudian ada seorang wanita tua duduk di sebelahnya. pakaiannya tampak lusuh dan udik. bahkan ia hanya memakai sendal jepit, padahal berada di kelas VIP. sejenak ia menyangka bahwa Ibu itu salah duduk. tetapi tidak ada pramugari yang menegurnya. itu artinya dia duduk di tempat yang benar. terbesit sebuah tanya bagaimana bisa seorang wanita tua yang sangat sederhana itu bisa berada di penerbangan VIP bersama dirinya. akhirnya karena didorong oleh rasa penasaran maka ia pun bertanya kepada wanita tersebut.
"Ibu, mau ke Singapura juga?"
wanita itu tampak terkejut. kemudian ia mengendalikan diri dan tersenyum.
"Iya Nak."
"Mau bekerja atau ... ?"
"Mau bertemu dengan anak saya di Singapura Nak. kebetulan Istrinya baru saja melahirkan anak kedua beberapa hari yang lalu. jadi saya ingin menengok juga."
sempat terbesit rasa penyesalan telah bertanya demikian. entah mengapa ia berpikir bahwa Ibu itu seorang TKW. tapi sepertinya Ibu itu tidak terlalu memikirkannya dan tetap tersenyum dengan pandangan menerawang ke depan.
"Oh begitu. Anak ibu bekerja sebagai apa di Singapura?"
"Katanya sih sebagai Permanent Resident gitu atau apa gitu istilahnya. yang jelas katanya dia sering gambar - gambar gedung gitu di sana."
sejenak dirinya merasa kagum dengan Ibu tersebut. walaupun dirinya terlihat berasal dari keadaan yang sangat sederhana, tapi anaknya bisa sukses dan berhasil di luar negeri. akhirnya ia jadi ingin lebih tahu lebih banyak lagi tentang anak - anaknya.
"Wah keren juga ya anak Ibu bisa jadi sukses seperti itu."
"Alhamdulillah Nak. Ibu juga senang anak - anak Ibu bisa pada berhasil semua."
"Memang anak Ibu yang lain sekarang dimana?"
"Anak Ibu yang ketiga sekarang udah jadi dokter syaraf gitu di Jakarta. terus yang keempat sekarang dapat beasiswa S2 di Belanda. katanya biar bisa jadi profesor atau apa gitu."
Kini dirinya semakin kagum pada Ibu tua tersebut. walau penampilan dan hidupnya sangat sederhana, tapi anak - anaknya sukses semua. tapi ada sesuatu yang mengganjalnya. dirinya jadi penasaran terhadap anak pertama Ibu tersebut.
"Terus anak pertama Ibu bagaimana?"
"Anak Ibu yang pertama cuma jadi petani aja di kampung. jadi dia yang menemani Ibu setiap hari."
terlihat mata Ibu tersebut sedikit berkaca - kaca. akan tetapi Ia tetap mengulum senyum di bibirnya. kini pandangannya sedikit tertunduk ke bawah.
"Maaf jika kata - kata saya sedikit menyinggung Ibu. saya tahu bahwa anak Ibu yang pertama tidak bisa dibanggakan seperti anak Ibu yang lainnya. tapi anak Ibu yang lain semuanya luar biasa karena bisa sukses seperti itu."
"Tidak! justru sebaliknya. Ibu sangat bangga pada anak Ibu yang pertama. sangat - sangat bangga. sangat - sangat bangga..!!"
"Tapi bagaimana Ibu bisa bangga? bukankah anak Ibu yang pertama hanya menjadi petani biasa saja di kampung?"
"Justru itu Nak. sejak suami Ibu meninggal, anak pertama Ibu langsung putus sekolah dan menjadi petani. tapi dia tidak pernah memperbolehkan adik - adiknya untuk putus sekolah jgua seperti dirinya. bahkan dia selalu bekerja keras agar adik - adiknya semua bisa terus sekolah dan terus membiayai kebutuhan adik - adiknya. ketika adik - adiknya putus asa juga dia yang selalu mengirimi surat dan memotivasi adik - adiknya agar tidak menyerah dan terus berusaha. walaupun dia sendiri yang tidak pernah sampai sekolah tinggi seperti adiknya, tapi dia selalu ingin agar adiknya jadi lebih baik dari dirinya. bukan menjadi yang lebih dari adik - adiknya dan membiarkannya begitu saja. pokoknya Ibu sangat bangga pada anak Ibu yang pertama itu."
senyum lebar terlihat dari wajah Ibu tersebut. walau dari sinar matanya masih terdapat haru yang mendalam, tapi rasa kebanggaan itu tetap terpancar dari raut wajahnya.
sejenak kemudian pembicaraan itu terhenti. masing - masing dari mereka tenggelam dalam lamunannya sendiri. Kini pengusaha itu merenungi kembali ambisinya. dari awal ia hanya ingin agar bisa menjadi lebih dari orang lain. terus berharap agar orang lain jatuh sehingga dirinya bisa jadi lebih baik dari orang tersebut. bukan berharap untuk bisa membantu orang lain dan mendorong orang lain agar bisa lebih daripada dirinya. bukan pula untuk berkorban banyak bagi orang lain. seseorang yang sangat sederhana sekalipun justru bisa memberikan manfaat yang sangat luar biasa untuk orang lain. entah mengapa dirinya kini merasa malu. malu karena belum berusaha untuk membantu orang lain secara maksimal. malu karena dirinya bahkan berada dalam keadaan yang jauh lebih baik.
kini dia pikirannya mulai terbang lagi ke arah lain. dia mulai melihat lagi jalan hidupnya yang telah ditempuh selama ini. adakah orang - orang yang telah berkorban banyak agar dirinya kini bisa berhasil? apakah dirinya pernah setidaknya berterima kasih kepadanya? atau sempat membalas jasanya?
entah mengapa kini pipinya basah. Ya, kini dirinya sedang menangis. merasa menyesal belum sempat membantu orang lain. tidak pernah memikirkan orang lain. tidak berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain. padahal agar bisa sampai pada keadaan seperti saat ini, dirinya sering sekali dibantu oleh orang lain. saatnya merubah mindset diri dan merubah keegoisan dalam diri. berusaha untuk membalas dan bermanfaat bagi orang lain. itulah niatnya kini. bukan lagi berambisi untuk menjadi lebih daripada orang lain, tapi untuk bisa bermanfaat lebih daripada orang lain.
-Khoirunnas anfa'uhum linnas-
Langganan:
Postingan (Atom)


